Oleh: agriefishery | Agustus 8, 2012

IKAN RED FIN SHARK (Labeo frenatus)

3.12 Ikan Red Fin Shark (Labeo frenatus)

Ikan redfin atau yang nama dagangnya adalah red fin shark adalah ikan asli vietnam yang ditemukan di sekitar sungai Mekhong. Ikan ini bersifat omnivor dan sangat menarik dengan warna tubuh coklat agak keabuan ada juga yang albino dengan warna sirip yang merah terang.

Di habitat aslinya ikan ini dapat mencapai panjang 12 cm dan sangat suka memakan lumut, sehingg akan tampak senang memakan lumut di dinding akuarium sehingga akuarium akan tampak bersih. Ikan ini bersifat pemalu sehingga akan keluar mencari makan pada malam hari.

3.12.1 Pemeliharaan Induk

Induk dipelihara dalam akuarium ukuran cm dengan ketinggian air sekitar 35-40 cm dan berisi sekitar  20 induk. Sebaiknya induk jantan dan betina ditempatkan dalam akuarium yang terpisah.

Pakan yang diberikan adalah cuk merah/cacing darah (Chironomus) atau cacing sutra dengan frekuensi pemberian pakan adalah 2-3 kali sehari. Pakan yang diberikan jangan terlalu berlebih karena akan menyebabkan air menjadi cepat kotor. Penyifonan dilakukan setelah pemberian pakan pagi dan air yang hilang selama penyifonan diganti dngan air yang baru. Apabila air sudah terlihat kotor maka dapat dilakukan pergantian air sebanyak 50-70% dari volume air akuarium.

3.12.2 Pemijahan

Pemijahan ikan red fin dilakukan dengan cara semi alami atau buatan dengan kawin suntik. Cara semi alami dilakukan dengan penyuntikan dan selanjutnya ikan dibiarkan memijah dengan sendiri, sedangkan cara buatan setalah penyuntikan induk jantan dan betina dilakukan stripping. Jantan dan betina dibedakan berdasarkan bentuk tubuhnya, jantan akan terlihat langsing dan pendek sedangkan betina akan tampak lebih panjang dan gemuk.

Pemijahan dilakukan dengan penyuntikn hormon Gonadotropin (GTH) buatan seperti Ovaprim pada induk yang sudah matang telur. Dosis yang digunakan adalah 0,3-0,7 ml/kg berat badan ikan. Suntikan dilakukan sekali saja, dengan cara memegang induk dengan tangan kiri dan penyuntikan dilakukan dengan tangan kanan. Pemijahan dilakukan secara masal, induk yang sudah bertelur harus segera diangkat dan dipindahkan dan telur-telur dibiarkan menetas tanpa induk.

Ikan ini berenang didasar sehingga telurnya akan berantakan jika terus bersama induknya. Oleh karena itu penyuntikan dilakukan siang hari agar induk bertelur di malam hari, karena waktu yang baik untuk mengangkat induk adalah malam hari. Misal penyuntikan dilakukan pada siang hari jam 11.00 maka diperkirakan induk akan bertelur pada malam hari pada jam 22.00.

3.12.3 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Telur red fin akan berserakan di dasar akuarium, diamkan dengan aerasi yang sedang maka  telur akan menetas setelah 24 jam. Larva yang baru menetas tidak diberi makan karena masih mempunyai kuning telur. Larva akan berenang setalah berumur sekitar 3-4 hari.

Pakan yang diberikan berupa infusoria untuk larva yang berumur 3-4 hari. Pakan selanjutnya apabila telah besar adalah nauplii Artemia, kutu air halus, dan cacahan cacing sutra. Setelah besar dapat diberikan pakan cacing sutra atau cacing darah. Red fin akan mencapai ukuran siap jual pada umur sekitar 4 bulan atau panjang sekitar 5 cm. Air dalam akuarium sering kotor karena red fin senang mengaduk dasar, sehingga sisa pakan dan kotoran akan melayang di air. Untuk itu perlu dilakukan penyifonan dan pergantian air seperlunya seperti pada pemeliharaan induk.

SUMBER :

taufikbudhipramono.blog.unsoed.ac.id/2011/05/12/teknologi-budidaya-ikan-hias-3/

ARTIKEL LAINNYA:

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: