Oleh: agriefishery | Juli 24, 2012

KUALITAS AIR PERAIRAN

Air mempunyai sifat sebagai stabilisator temperatur karena sifatnya yang bipolar. Air mempunyai spesific heat yang terbesar. Spesifis heat ialah jumlah kalori yang diperlukan untuk menaikkan temperatur air 1 g/1°C. Kepadatan air tertinggi pada temperatur 4°C, pada temperatur ini berat jenis air paling tinggi. Volumenya menjadi lebih besar dan lebih ringan di atas dan di bawah temperatur ini. Daya tembus cahaya dalam air dipengaruhi oleh zat yang terlarut dan yang tersuspensi. Cahaya yang menembus air akan berkurang intensitasnya dan berubah komposisi spektrumnya sesuai dengan kedalaman. Cahaya merah hanya dapat menembus 4 m, sedang biru dapat sampai 70 m. Turbiditas atau kekeruhan air dipengaruhi oleh banyak lumpur dan pasir halus dalam air. Sering merupakan faktor limit. Apabila kekeruhan dan warna air disebabkan oleh organisme hidup dapat dipakai sebagai indikasi produktivitas perairan (Heddy, 1994).

Sumber Oksigen terlarut dalam air ialah :

  1. udara melalui difusi dan agitasi air.
  2. fotosintesa yang dipengaruhi oleh : densitas tanaman, banyak cahaya, dan lama penyimpanan. Dalam air terdapat oxygen pulse karena adanya perbedaan kecepatan fotosintesa siang dan malam.

Pengurangan Oksigen terlarut dapat dipengaruhi oleh :

  1. respirasi organisme
  2. penguraian zat organik oleh mikroorganisme. Banyaknya oksigen yang dipakai mikroorganisme dan untuk oksidasi senyawa organik dalam air dapat diketahui dengan melakukan uji BOD (Biochemical Oxygen Demand)
  3. reduksi gas lain
  4. pelepasan oksigen terlarut secara otomatis yang dipengaruhi temperatur dan derajad kejenuhan
  5. adanya zat besi, maka oksigen akan dipakai untuk oksidasi.(Suryani, 1980).

Kecerahan dan kekeruhan (turbiditas) air menggambarkan tingkat kejernihan air untuk dapat menerima cahaya dari sinar matahari. Kecerahan dan kekeruhan air dapt disebabkan oleh suspensi tanah (lempung) atau plankton. Kekeruhan di perairan umumnya jarang melebihi 20.000 mg/l dan bahkan pada perairan berlumpur biasanya kurang dari 2.000 mg/l. Perubahan perilaku berbagai macam jenis ikan baru terjadi pada kekeruhan lebih besar dari 20.000 mg/l (Irwin, 1945 cit Boyd, 1979).

Menurut Swingle (1969) cit. Boyd (1979). Derajad keasaman (pH) air dapat mempengaruhi kesetimbangan senyawa-senyawa yang terdapat di dalam perairan, disamping itu mempengaruhi kehidupan pakan alami (plankton) dan fisiologis ikan. Dalam suatu perairan dengan pH < 5 ikan tidak berkembang atau mati, pH < 6,5 pertumbuhan ikan lambat, pH 6,5 – 9 layak untuk kehidupan ikan, pH > 9 pertumbuhan ikan lambat dan pada pH > 11 menyebabkan kematian pada ikan. Perairan yang ideal bagi pemeliharaan ikan dalah perairan yang mempunyai pH antara 6,5 – 8,5 (NTAC, 1968).

Suatu perairan dapat mendukung kehidupan ikan dengan layak dan kegiatan perikanan berhasil, maka kandungan oksigen terlarutnya tidak kurang dari 4 mg/l (NTAC, 1968). Menurut Swingle (1968) dan Pescod (1973), kandungan O2 terlarut minimal 2 mg/l sudah cukup mendukung kehidupan organisme perairan secara normal jika tidak ada senyawa lain yang bersifat racun.

Karbondioksida (CO2) air merupakan bahan utama dalam fotosintesa, tetapi jika dalam konsentrasi yang tinggi dapat bersifat menghambat penyerapan oksigen oleh darah di dalam tubuh ikan. Kandungan CO2 bebas sebaiknya tidak melampaui 25 ppm dan kandungan O2 terlarut selalu tersedia dalam jumlah cukup. Dalam perairan dengan kandungan oksigen terlarut 2 ppm, konsentrasi CO2 sebesar 12 ppm cukup aman bagi kehidupan ikan. (NTAC, 1968).

Suhu air dapat mempengaruhi sifat fisika, kimia maupun biologi perairan. Secara biologi suhu air dapat mempengaruhi kehidupan plankton dan fisiologis ikan. Menurut Pescod (1973) cit. Krismono dkk., (1987) perubahan suhu yang disebabkan oleh penambahan air untuk perairan mengalir sebaliknya tidak lebih dari 2,8 °C dan untuk perairan yang tergenang tidak lebih dari 1,7 °C. Fluktuasi suhu sebaiknya tidak lebih dari 4°C, karena pada fluktuasi suhu sebesar 5°C atau lebih dapat mengakibatkan ikan stres (Boyd dan Lichkoper, 1979).

Alkalinitas suatu perairan menunjukkan kandungan basa yang bersenyawa dengan ion karbonat dan bikarbonat. Alkalinitas total air umumnya berasal dari ion karbonat dan bikarbonat. Klasifikasi alkalinitas air untuk perikanan yaitu : alkalinitas antara 0 – 10 ppm termasuk sangat rendah (sangat asam), 10 – 50 ppm termasuk rendah, 50 – 200 ppm termasuk sedang dan > 200 ppm CaCO3 termasuk tinggi ( sangat alkalin). (Swingle, 1968).

Perairan sebagai tempat hidup ikan apabila tidak dapat memenuhi persyaratan-persyaratan bagi kehidupan ikan bisa dikatakan sebagai perairan yang kurang ideal. Kondisi lingkungan perairan serta pakan alami yang tersedia sangat mempengaruhi pertumbuhan maupun pertambahan spesies ikan. Kondisi lingkungan perairan dipengaruhi oleh suhu, kadar DO, kadar CO2, alkalinitas, amonium, polutan dan lain-lain (Asdak, 1995).

Kualitas air secara luas diartikan sebagai setiap faktor fisik, kimiawi dan biologi yang mempengaruhi manfaat penggunaan air bagi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung (Cholik 1991). Karakteristik suatu perairan sangat berkaitan dengan kualitas air, karakteristik tersebut memegang peranan sebagai indikator kualitas air. Air yang bersih mempunyai pH =7 dan DO jenuh pada 9 ppm (Buwono, 1995).

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: