Oleh: agriefishery | Agustus 8, 2012

BUDIDAYA IKAN KONGO TETRA (Micralestes interruptus)

3.4. Ikan Kongo Tetra (Micralestes interruptus)

3.4.1 Deskripsi Ikan Kongo Tetra

Ikan kongo tetra termasuk ke dalam famili Characidae dan berasal dari Afrika. Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan hias yang mudah berkembang biak. Seperti halnya dengan ikan gapi dan cupang, ikan kongo tetra jantan lebih mahal dibandingkan dengan betinanya, karena ikan jantan lebih menarik dengan adanya sirip punggung yang memanjang menyerupai rumbai-rumbai yang bisa sampai menyentuh sirip ekor. Di bawah cahaya lampu, ikan jantan juga biasanya memancarkan cahaya yang berwarna emas dan turquoise. Ikan ini hidup dengan baik di lingkungan dengan temperatur 25-27oC.

Perbedaan harga antara ikan jantan dan ikan betina tersebut mendorong petani berusaha menghasilkan ikan jantan lebih banyak atau semuanya jantan. Akan tetapi secara konvensional, untuk tujuan tersebut petani harus menambah jumlah induk ikan yang tentunya akan diikuti dengan kenaikan biaya produksi. Tehnologi yang bisa digunakan untuk menghasilkan semua ikan kongo jantan adalah sex reversal dengan menggunakan hormon androgen, 17-methyltestosteron, yang akan di bahas lebih lanjut.

3.4.2 Pemeliharaan Induk

Seperti pada ikan hias lainnya, pemeliharaan calon induk ikan kongo untuk pematangan gonadnya dilakukan dalam akuarium yang terpisah. Pakan yang bagus untuk pematangan gonad adalah chu merah beku atau segar, dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari sampai ikan kenyang. Dan untuk menjaga kualitas air, setiap hari dilakukan penyiponan terhadap kotoran ikan dan sisa makanan yang tidak termakan, kemudian air diganti sebanyak 30% dari volume air akuarium.

3.4.3 Pemijahan

Pemijahan ikan kongo tetra sebaiknya dilakukan secara massal dengan perbandingan jenis kelamin ikan jantan dan betina 3:5. induk matang gonad yang ditandai dengan perut gendut, dimasukkaqn kedalam akuarium pemijahan berukuran  cm. Pada umumnya induk jantan selalu siap dikawinkan sehingga pemilihan induk hanya dilihat dari keseragaman besarnya dengan harapan kualitasnya akan sama.

Ke dalam akuarium pemijahan dimasukkan pula 4-5 eceng gondok sebagai substrat pemijahan. Disela-sela akar eceng gondok biasanya banyak telur ikan meskipun sebenarnya telur-telur tersebut tidak menempel sehingga pada saat eceng gondok digoyang goyangkan, telur-telur akan jatuh kedasar akuarium. Telur-telur yang ada didasar akuarium disiphon dengan selang sipon secara hati-hati agar telur tidak rusak, kemudian telur-telur tersebut dipindahkan kedalam akuarium penetasan.

Induk-induk yang berada di akuarium yang memiliki telur tetap dibiarkan dan dipelihara dengan pemberian pakan dan pergantian air seperti biasa. Setelah dilakukan pemanenan telur sebanyak 4-5 kali (untuk pemijahan dengan induk betina sebanyak 20 ekor), induk ikan kongo jantan diganti dengan induk jantan yang baru. Ikan jantan yang sudah digunakan untuk pemijahan tersebut dipelihara dalam akuarium pematangan untuk dimatangkan lagi. Demikian juga halnya dengan induk betina yang sudah memijah ditandai dengan perut menjadi ramping (kempes) diambil dan diganti dengan betina yang baru.

3.4.4 Penetasan Telur dan Pendederan Larva/Benih

Penetasan telur dilakukan pada akuarium yang terpisah dari akuarium pemijahan. Telur yang telah dikumpulkan kedalam akuarium penetasan ditambahkan Methylene Blue 1 mg/l air akuarium untuk mencegah serangan jamur.

Makanan untuk larva mulai diberikan pada saat cadangan makanannya berupa kuning telur mulai habis. Makanan yang diberikan berupa naupli Artemia sampai ikan berumur 2 minggu, kemudian diberi cacing rambut atau kutu air. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari. Untuki menjaga kualitas air dilakukan penyiponan setiap hari dan pergantian air kurang lebih 30% volume air akuarium penetasan. Air yang dipergunakan adalah air tandon tang telah disiapkan sehari sebelumnya. Setelah ikan berumur satu bulan, kepadatannya dijarangkan agar pertumbuhan ikan tidak terhambat.

3.4.5 Cara Memproduksi Ikan Kongo Tetra Jantan yang Banyak

Untuk menghasilkan ikan jantan yang banyak dari setiap siklus produksi dapat dilakukan dengan cara diferensiasi kelamin dengan menggunakan hormon. Pada ikan kongo tetra telah berhasil dilakukan pengarahan kelamin menjadi jantan dengan menggunakan hormon 17 mehyltestoteron dengan dosis 25 mg/l selama 8 jam melalui perendaman telur pada saat bintik mata yang terjadi sekitar 50 jam setelah pemijahan. Jumlah telur yang direndam sebanyal 1000-2000 butir per liter air berhormon. Selam perendaman, aerasi tetap diberikan. Setelah waktu perendaman selesai. Air berhormon dibuang dan diganti dengan air yang baru air tandon. Cara pemeliharaan ikan selanjutnya seperti pada pemeliharaan ikan normal ( ikan yang tidak diberi perlakuan hormon).

SUMBER :

http://taufikbudhipramono.blog.unsoed.ac.id/2011/05/12/teknologi-budidaya-ikan-hias-3/

ARTIKEL LAINNYA:

 

 

 


Responses

  1. Jual produk-produk untuk pembenihan ikan al : Artemia, Spirulina, Ovaprim, Vitamin ikan dll. Untuk informasi dan pemesanan silahkan hub 0812 284 1280 dan PIN BB 2921197E


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: