Oleh: agriefishery | Agustus 8, 2012

BUDIDAYA IKAN CUPANG (Betta splendens)

3.2 Ikan Cupang (Betta splendens)

Ikan cupang atau ikan betta yang banyak diminati adalah ikan jantannya, karena keindahan warna badan dan sirip-sirip, serta tingkah lakunya yang agresif. Harga ikan jantan pun jauh lebih mahal dengan ikan betinanya. Oleh karena itu, secara ekonomis, lebih menguntungkan memelihara ikan cupang jantan. Dengan demikian diperlukan suatu tehnik yang dapat digunakan untuk menghasilkan ikan cupang jantan yang banyak atau semuanya jantan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan teknik seks reversal menggunakan hormon yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Selain perbedaan harga cupang diakibatkan oleh perbedaan jenis kelamin, juga diakibatkan oleh perbedaan strain/varietas, seperti ikan cupang strain merah (cupang api) jauh lebih mahal  harganya dibandingkan dengan ikan cupang lokal yang berwarna merah-biru. Namun demikian ternyata harga ikan cupang api yang mahal tersebut berhubungan dengan relatif lebih sulit memelihara atau memijahkannya dari pada ikan lokal.

sumber photo : http://aquariumfishparadise.com.au/2012/02/siamese-fighting-fish-betta-splendens/

3.2.1 Deskripsi Ikan Cupang

Ikan cupang merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai alat pernapasan tambahan berupa labirin. Dengan bantuan alat tersebut, ikan ini dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Dengan demikian dalam pemeliharaan ikan cupang, aerasi tidak harus dipasang sehingga dapat menghemat penggunaan listrik dan sarana sistem aerasi.

Daya tarik lain dari ikan cupang adalah keindahan warna dan sirip-siripnya, terutama ikan cupang jantan. Ikan ini juga senang berkelahi terhadap sesamanya sehingga dijuluki “fighting fish”, tetapi bersikap toleran terhadap ikan jenis lain. Toleransi ikan cupang terhadap temperatur berkisar antara 24-29 oC. Pertumbuhannya ikan cupang relatif cepat sehingga masa pembesarannya tidak terlalu lama ke waktu penjualannya.

3.2.2 Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk ikan cupang dilakukan secara terpisah antar ikan jantan dan betinya, dan juga antar ikan jantan. Pemisahan antar ikan jantan dimaksudkan agar tidak saling berkelahi yang dapat merusak kondisi induk atau bahkan mati. Pemeliharaan induk jantan ini dilakukan dibotol-botol air minum bekas atau dalam akuarium kecil berukuran  cm, sedangkan induk betina dipelihara secara massal atau bersama-sama didalam akuarium atau bak yang lebih besar, berukuran  cm atau  cm.

Selama pemeliharaan, induk ikan cupang diberi makan “chu merah” (larva Chironomus) hidup atau beku, atau dengan jentik nyamuk, dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari.

3.2.3 Pemijahan

Induk betina yang sudah matang gonad ditandai dengan perut yang genduk dan agak transparan sehingga telur nampak di dalam perut. Sedangkan induk jantan biasanya selalu siap untuk dipijahkan atau dapat matang gonad setiap saat.

Pemijahan ikan cupang dilakukan secara alami dan berpasangan di dalam akuarium berukuran  cm. Yang pertama dimasukkan kedalam akuarium adalah induk jantan, sementara induk betina dimasukkan dahulu ke dalam botol air minum bekas atau kantong plastik dan selanjutnya dimasukkan kedalam akuarium tempat ikan jantan. Pemisahan ini dimaksudkan agar induk jantan terangsang untuk membuat busa atau agar induk betina tidak menggangu induk jantan membuat sarang busa. Ke dalam akuarium pemijahan juga dimasukkan selembar daun eceng gondok sebagai tempat menempelkan busa dari ikan jantan sehingga busanya tidak berantakan.

Setelah induk jantan membuat busa dan induk betina memperlihatkan tanda-tanda siap memijah (ikan betina berenang didalam botol mengikuti arah gerakan ikan jantan), induk betina dicampurkan dengan jantannya. Bila kedua induk benar-benar siap memijah, akan memijah beberapa saat setelah dicampur. Namun bila ikan tidak memijah pada hari pertama, biarkan hingga hari ketiga. Kemudian, kalau ikan tetap tidak memijah, pisahkan terlebih dahulu dan pelihara kembali.

3.2.4 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih

Penanganan telur ikan cupang hasil pemijahan ada dua macam, yaitu telur-telur tersebut diasuh oleh induk jantan dan tidak diasuh atau telur dibiarkan menetas sendiri. Kedua cara tersebut tidak memberikan hasil (jumlah telur yang menetas) yang berbeda. Tetapi, cara membiarkan telur menetas sendiri lebih aman dari pemangsaaan induk jantan yang tidak mau mengasuh dan induk jantan tersebut dapat cepat pulih dan matang gonad sehingga bisa dikawinkan lagi.

Bila dipilih cara kedua, maka kedua induk dari pasangan ikan yang sudah memijah diangkat dan dimasukkan kedalam wadah pemeliharaan semula. Induk (terutana induk betina) yang selesai memijah biasanya mengalami luka-luka dibadannya sehingga perlu diobati atau mencegah adanya serangan penyakit dengan memberikan Methylene Blue sebanyak 2 mg/l air wadah pemeliharaan. Apabila tersedia antibiotik seperti oksitetrasiklin atau kanamisin, terkadang juga perlu ditambahkan kedalam wadah pemeliharaan induk untuk mencegah serangan bakteri.

Ke dalam akuarium yang berisi telur ditambahkan larutan Methylene Blue 0,5 mg/l air akuarium untuk mencegah seranmgan jamur. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor induk betina (tergantung kualitas dan besanya induk) berkisar antara 1000-2000 butir. Telur ikian cupang akan menetas 24-48 jam setelah pemijahan (suhu air 25-27 0C).

Pada saat cadangan makanan larva berupa kuning telur (yolk sack) akan habis, biasanya pada hari ketiga setelah menetas, larva diberi makan suspensi kuning telur ayam rebus atau dengan infusoria (sebangsa protozoa). Setelah benih ikan bertambah besar, pakan yang diberikan berupa naupli Artemia sampai ikan dapat  memakan cacing rambut atau kutu air.

Penjarangan kepadatan ikan atau pemindahan ke wadah yang lebih besar perlu dilakukan apabila pada wadah pertama terlalu padat. Hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan ikan tidak terhambat. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah ikan berumur satu bulan. Sedangkan setelah ikan berumur 2 bulan, perlu dilakukan penyortiran jenis kelamin untuk mencegah ikan-ikan jantan berkelahi, dan setiap ikan jantan hasil seleksi tersebut dimasukkan kedalam wadah yang terpisah. Wadah ikan jantan dapat berupa potongan botol-botol air minum bekas. Pemberian pakan tetap dilakukan tiga kali sehari. Dan untuk menjaga kualitas air, dilakukan penyiphonan kotoran ikan dan selanjutnya air diganti 1/3 bagian volume air wadah.

Sumber :

http://taufikbudhipramono.blog.unsoed.ac.id/2011/05/12/teknologi-budidaya-ikan-hias-3/

ARTIKEL LAINNYA:

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: