Oleh: agriefishery | Juli 18, 2012

MORFOLOGI IKAN SUMATERA

SUMBER PHOTO ; http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/resources/Grzimek_fish/Cypriniformes/CypriniformesA/Puntius_tetrazona_tetrazona.jpg/view.html

Ikan sumatra merupakan ikan dasar tetapi sering berada di permukaan untuk mencari makan. Makanan utama ikan sumatra adalah detritus dan zoo-bentos, sedangkan makanan pelengkapnya berupa cacing-cacing kecil dan makanan crustace tingkat rendah. Ikan ini sangat aktif bergerak di permukaan perairan untuk menyambar makanan. Ikan sumatra mencapai matang seksual pada panjang 2 hingga 3 cm (0,8 – 1,2 inci) atau kira-kira berumur 6 -7 minggu. Ikan betina lebih besar dan memiliki sirip dorsal yang lebih gelap, sedangkan ikan jantan berwarna lebih terang. Memijah pada musim penghujan di daerah hilir sungai dan telur-telur menetas, larva hidup di daerah tersebut sampai berukuran ± 1 cm kemudian beruaya ke danau-danau dan anak-anak sungai. Fekunditas berkisar antara 300-500 telur dan fekunditas tertinggi dapat mencapai 1.000 butir telur (Muthmainnah 2009). Telur ikan sumatra bersifat adhesif dengan diameter 1,18±0,05 mm (Wikipedia 2009). Menurut Ganggadata (2007), telur ikan sumatra akan menetas ± 36 jam setelah pembuahan pada suhu 27 oC dengan diameter rata-rata 1,3875 mm.

Menurut Lesmana dan Dermawan (2001), ikan sumatra (Puntius tetrazona) hidupnya berkelompok dan dapat diletakkan di tempat yang cukup terang asalkan teduh. Di dalam akuarium ini biasanya dalam kelompok 5 atau lebih. Bila kurang dari 5 ekor, ikan ini akan agresif, dan bila hanya 2 ekor, salah satu akan mengejar yang lain (Muthmainnah 2009).

2.2 Habitat Dan Penyebaran
Ikan sumatra secara alami menyebar di Semenanjung Malaya (termasuk di wilayah Thailand), Sumatra dan Kalimantan. Di samping itu, ada pula laporan-laporan temuan dari wilayah lain di Asia Tenggara yang sukar dikonfirmasi, apakah ikan-ikan tersebut memang asli setempat atau ikan lepasan yang telah beradaptasi.

Ikan ini sering didapati pada sungai-sungai dangkal berarus sedang, yang jernih atau keruh. Ikan sumatra menyukai pH antara 6.0–8.0, kesadahan air antara 5–19 dGH, dan kisaran temperatur air antara 20–26 °C. Ikan sumatra juga didapati di rawa-rawa, yang mengindikasikan bahwa ikan ini memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan kualitas air. Rata-rata lama hidup ikan sumatra adalah sekitar 6 tahun (Firman Nazrasul Hakim, 2010)
Ikan Sumatra merupakan salah satu ikan hias perairan tropis. Habitat asli Ikan Sumatra adalah di Kepulauan Malay, Sumatra, dan Borneo (Wikipedia, 2008). Ikan Sumatra hidup di perairan tawar seperti sungai, danau, dan rawa. Ikan ini menyukai perairan yang berarus tenang. Ikan ini dapat tumbuh mencapai panjang 7 cm. Ikan Sumatra hidup pada perairan yang memiliki kisaran derajat keasaman (pH) 6 – 8, dengan tingkat kesadahan 5 – 19 dH (optimum 10), dan suhu berkisar 25 – 29° C (Wikipedia, 2008). Dalam Wikipedia (2008), ikan Sumatra mulai matang gonad setelah ikan mencapai ukuran panjang 2 – 3 cm atau setelah ikan tersebut berumur 6 hingga 7 bulan.

Axelrod et al. (1983) mengemukakan bahwa proses pemijahan pada ikan Sumatra dapat dipercepat apabila media pemijahan memiliki kesadahan yang lebih rendah daripada media pemeliharaan. Pemijahan ikan Sumatra berlangsung pada pagi hari di tanaman-tanaman air. Telur yang dipijahkan bersifat adhesif atau menempel pada substrat. Ikan Sumatra mampu menghasilkan telur 300 butir setiap kali memijah. Setiap kali induk Sumatra memijah, mampu mengahasilkan telur sebanyak 300 – 1000 butir. Telur ikan Sumatra berdiameter 1.18 + 0.05 (Wikipedia, 2008).

sumber photo: http://www.aqua-szene.de/2010/05/freche-rupel-im-aquarium-die-barben/

2.3 Jenis Yang Berkerabat
Status taksonomi jenis ini belum mantap dan masih panjang perdebatan mengenainya. Pada 1855 Pieter Bleeker, ahli ikan bangsa Jerman yang bekerja di Hindia Belanda ketika itu, pertama kali mendeskripsi jenis ini dengan nama Capoëta tetrazona. Akan tetapi pada 1857, Bleeker menggunakan lagi nama-spesifik (specific epithet) yang sama untuk menamai jenis yang lain, yang berkerabat namun tidak begitu mirip, yakni dengan Barbus tetrazona (kini ikan ini dikenal sebagai Puntius rhomboocellatus).

Sementara itu, untuk menambah keruwetan, pada 1860 Bleeker mengubah nama-spesifik ikan sumatra menjadi Systomus (Capoëta) sumatranus. Baru pada akhir 1930an kekeliruan ini diperbaiki dan nama Barbus tetrazona dikembalikan bagi ikan sumatra. Jenis lain yang serupa adalah Puntius anchisporus, dengan pola pewarnaan yang amat mirip dengan ikan sumatra. Perbedaannya, P. anchisporus memiliki gurat sisi yang sempurna dan batang ekornya dikelilingi oleh 14 sisik (Wikipedia 2008).

ARTIKEL LAINNYA:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: