Oleh: agriefishery | Juli 15, 2012

EKOLOGI CACING TUBIFEX SP.

Brinkhurst et al., (2000) Cacing Tubifex sp umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secara berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis. Ditambahkan bahwa spesies Cacing Tubifex sp ini bisa mentolelir perairan dengan salinitas dengan 10 ppt. Kemudian oleh Cartwright (2004), dikatakan bahwa dua faktor yang mendukung habitat hidup Cacing Tubifex sp ialah endapan lumpur dan tumpukan bahan organik yang banyak.

Oksigen terlarut merupakan parameter yang sangat penting dalam kehidupan setiap organisme yang hidup. Setiap organisme hidup pasti membutuhkan oksigen untuk respirasi yang selanjutnya akan digunakan dalam proses metabolisme suntuk merombak bahan organik yang dimakan menjadi sari makanan yang dimanfaatkan sebagai energi untuk tumbuh berkembang biak dan bergerak (Sedana et al., 2003).

Kemudian Arhipova (1996) menyatakan bahwa kelimpahan Cacing Tubifex sp akan berkurang dimana keanekaragaman jenis organisme tinggi. Kelimpahannya akan semakin tinggi bila standing corps rendah sekalipun. Maka predator pemakan cacing akan banyak dalam kondisi perairan seperti di atas. Dan jika semua jenis cacing tak ditemui dalam perairan maka dapat dikatakan perairan tersebut dalam keadaan tercemar logam berat.

Vincentius (1992) menyatakan bahwa ketinggian air pada lingkungan pemeliharaan Cacing Tubifex sp berpengaruh terhadap ketahanan hidup dan perkembangannya. Jika air terlalu tinggi, maka koloni atau populasi Cacing Tubifex sp akan tidak berkembang bahkan akan mengalami kematian karena Cacing Tubifex sp ini membutuhkan oksigen dari luar untuk bernapas. Sedangkan apabila air terlau rendah atau sedikit, maka lingkungannya akan cepat panas sehingga Cacing Tubifex sp ini tidak akan dapat bertahan hidup lebih lama. Ketinggian air yang optimal pada populasi Cacing Tubifex sp adalah setinggi 6 cm.

Semakin tinggi kadar amoniak pada kelimpahan Cacing Tubifex sp semakin rendah. Meningkatnya kadar amoniak hingga 0,29-0,96 mg/l diikuti dengan menurunya kelimpahan Cacing Tubifex sp (Davis, 1982). Organisme hidup yang bersifat membutuhkan oksigen untuk beberapa reaksi biokimia yaitu untuk mengoksidasikan bahan organik, sintesis sel dan oksidasi sel (Sunu, 2001).

Air sungai yang suhunya naik akan mengganggu kehidupan hewan air dan organisme air lainnya karena kadar oksigen terlarut dalam air akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu. Padahal setiap kehidupan memerlukan oksigen untuk bernapas. Oksigen yang terlarut dalam air berasal dari udara yang secara lambat terdifusi ke dalam air. Makin tinggi kenaikan suhu air, makin sedikit oksigen yang terlarut di dalamnya (Wardhana, 1994).

Kenaikan suhu air akan berakibat pada jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun, kecepatan reaksi kimia meningkat, kehidupan ikan dan hewan air lainya terganggu dan suhu yang terlampau panas bisa mematikan ikan dan hewan air lainnya (Suhu, 2001).

Pertukaran gas oksigen dan CO2 pada Cacing Tubifex sp, dilakukan melalui permukaan tubuh. Kebanyakan Cacing Tubifex sp membangun tabung pada substratnya dan bagian ekornya melambai-lambai, sehingga bisa membuat sirkulasi air dan membuat oksigen lebih banyak untuk diterima oleh permukaan tubuh. Ditambahkan bahwa populasi Cacing Tubifex sp tak bisa diperbaiki pada kondisi yang tanpa oksigen (Pennak, 1978).

Dausend (1931) dalam Pennak (1978) menyatakan bahwa hanya sepertiga spesimen sampel Cacing Tubifex sp yang digunakan mampu bertahan pada kondisi an aerob selama 48 hari pada suhu 0-2 °C dan pada suhu yang lebih tinggi persentasenya lebih sedikit lagi. Penelitian lain menunjukan angka populasi lebih rendah lagi setelah 120 hari, pada kondisi an aerob.

Secara umum, konsentrasi oksigen yang lebih rendah membuat gerakan bagian ekor Cacing Tubifex sp semakin giat untuk melambai menghasilkan aerasi. Tetapi jika kadar oksigen mulai nol, maka Cacing Tubifex sp menjadi diam pergerakannya (Pennak, 1978).

Sel sensor pada kulit Cacing Tubifex sp secara umum sensitif terhadap sentuhan suhu dan rangsangan kimiawi dari luar. Suhu memang bukanlah salah satu faktor pembatas bagi Cacing Tubifex sp tetapi sering kali mempengaruhi kelimpahan Cacing Tubifex sp klas Oligochaeta ini (Pennak, 1978).

 SUMBER :

Arkhipova, N.R. 1996. Morphology of Pectinate Setae in Tubificids (tubificidae, oligochaeta). Zoologicheskii Zhurnal 75(2): 178-187. Rusia.
Barnes, R.D. 1974. Invertebrate Zoology. 3rd Edition. W.B. Sounders Comp. Philadelphia. 870p.
Cartwright, D. 2004. Effect of Riparian Zone and Associanted Stream Substrata on Tubifex tubifex. National Fish Health Research Laboratory. Kearnysville. USA.
Chumaidi dan Suprapto, 1986. Populasi Tubifex sp di Dalam Media Campuran Kotoran Ayam dan lumpur Kolam. Bulletin. Panel Perikanan Darat 5(2): 6-11 Balitanwar. Bogor.
ARTIKEL LAINNYA:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: